MACAM-MACAM IDEOLOGI DI DUNIA

Di dunia ini dikenal adanya dua ideologi yang banyak dianut oleh negara-negara di dunia, yaitu ideologi liberal dan komunis.

Ideologi Liberal
Pada akhir abad ke-18 di Eropa terutama di Inggris terjadilah revolusi di bidang ilmu pengetahuan, kemudian berkembang ke arah revolusi teknologi dan industri. Perubahan tersebut membawa perubahan orientasi kehidupan masyarakat, baik di bidang sosial, ekonomi maupun politik. Paham liberal berkembang dari akar-akar rasionalisme, yaitu paham yang meletakkan rasio sebagai sumber kebenaran tertinggi; materialisme yang meletakkan materi sebagai nilai tertinggi; empirisme yang mendasarkan atas kebenaran fakta empiris (yang dapat ditangkap dengan indera manusia), serta individualisme yang meletakkan nilai dan kebebasan individu sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan masyarakat dan negara.
Hal itu berpangkal dari dasar bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk individu yang bebas. Manusia menurut paham liberal memandang bahwa manusia sebagai manusia pribadi, dan terlepas dari manusia lainnya. Manusia sebagai individu memiliki potensi dan senantiasa berjuang untuk dirinya sendiri. Manusia akan menjadi ancaman bagi manusia lainnya yang menurut istilah Hobbes disebut homo homini lupus (homo = manusia, lupus = serigala). Oleh karena itu, manusia harus membuat suatu perlindungan bersama. Negara menurut liberalisme harus tetap menjamin kebebasan individu dan manusia secara bersama-sama mengatur negara.
Berdasarkan latar belakang timbulnya, paham liberalisme merupakan sintesis dari beberapa paham, antara lain paham materialisme, rasionalisme, empirisme, dan individualisme. Oleh karena itu, penerapan teknologi senantiasa didasari oleh aliran-aliran dan paham-paham secara keseluruhan. Berkembangnya paham liberalisme mengakibatkan munculnya individualisme dan masyarakat kapitalis.
Jika paham liberalisme dihubungkan dengna konsep demokrasi maka akan melahirkan demokrasi liberal. Kebebasan manusia dalam realisasi demokrasi liberal senantiasa mendasarkan atas kebebasan individu di atas segala-galanya. Rakyat merupakan hakikat tingkatan tertinggi dalam negara sehingga dimungkinkan akan berkedudukan  lebih tinggi daripada nilai religius. Hal ini harus dipahami karena demokrasi liberal akan mencakup seluruh sendi kehidupan dalam masyarakat, bangsa dan negara, antara lain bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan kehidupan keagamaan atau kehidupan religius. Atas dasar inilah' perbedaan sifat serta karakter bangsa sering menimbulkan gejolak dalam menerapkan demokrasi yang mendasarkan pada paham liberalisme. Termasuk di Indonesia sendiri pada masa reformasi ini, tidak semua orang memahami makna demokrasi sehingga penerapannya kadang-kadang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Akibatnya banyak menimbulkan konflik.
Jika paham liberalisme dihubungkan dengan masalah agama maka negara memberi kebebasan kepada Warganya untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Namun, dalam negara liberal juga diberi kebebasan untuk tidak percaya terhadap Tuhan atau ateis. Bahkan, negara liberal memberi kebebasan warganya untuk menilai dan mengkritik agama.
Nilai-nilai agama dalam negara dipisahkan dan dibedakan dengan negara. Keputusan dan ketentuan kenegaraan terutama peraturan perundang-undangan sangat ditentukan oleh kesepakatan individu-individu sebagai warga negaranya. Walaupun ketentuan tersebut bertentangan dengan norma-norma agama. Misalnya, Undang-Undang Aborsi di negara Irlandia tetap diberlakukan walaupun ditentang oleh gereja dan agama lainnya karena undang-undang tersebut merupakan hasil referendum.
Berdasarkan pandangan filosofi tersebut hampir dapat dipastikan bahwa dalam sistem negara liberal membedakan dan memisahkan antara negara dengan agama atau bersifat sekuler.  Inti sari paham liberalisme bertitik tolak dari hak kebebasan manusia sejak ia lahir dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun termasuk penguasa, kecuali dengan persetujuannya. Hak asasi memiliki nilai-nilai dasar, yaitu kebebasan individu secara mutlak. Hal ini tidak sesuai dengan ideologi Pancasila yang memandang manusia sebagai makhluk Tuhan yang mengemban tugasnya sebagai makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial sehingga dalam kehidupan bermasyarakat wajib menyelaraskan kepentingan pribadinya dengan kepentingan masyarakat.

Ideologi Sosialisme Komunis
Berkembangnya paham individualisme-liberalisme yang berakibat munculnya masyarakat kapitalis mengakibatkan penderitaan rakyat sehingga komunisme muncul sebagai reaksi atas penindasan rakyat kecil oleh kalangan kapitalis yang didukung pemerintah.
Bertolak belakang dengan paham liberalisme-individualisme, komunisme yang dicetuskan melalui pemikiran Karl Marx memandang bahwa hakikat kebebasan, dan hak individu itu tidak ada. Ideologi komunisme mendasarkan pada suatu keyakinan bahwa manusia pada hakikatnya hanya makhluk sosial saja. Manusia pada hakikatnya merupakan sekumpulan relasi sehingga yang mutlak adalah komunitas, bukannya individualitas. Hak milik pribadi tidak ada karena akan menimbulkan kapitalisme sehingga pada giliranmya akan melakukan penindasan pada kaum proletar, yakni penerima upah yang diperas dari para majikannya. Sekarang ini, arti proletar adalah golongan rakyat jelata atau warga negara yang berpenghasilan rendah yang tidak mempunyai perlindungan, jaminan sosial, asuransi, batas jam kerja, upah yang cukup, perumahan yang memadai, meskipun bekerja dengan keras dan disiplin (hidup dari menjual tenaga). Dapat disimpulkan bahwa individualisme merupakan sumber penderitaan rakyat. Oleh karena itu, hak milik individual harus diganti dengan hak milik kolektif. Individualisme diganti sosialisme komunis.
Dalam masyarakat terdapat kelas-kelas yang saling berinteraksi secara dialektis, yaitu kelas kapitalis dan kelas proletar. Walaupun kelas kapitalis dan kelas proletar bertentangan, namun saling membutuhkan. Mengapa? Sebab kaum kapitalis dalam melaksanakan usahanya membutuhkan banyak tenaga dari kaum ploletar. Begitu juga kaum proletar dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan pekerjaan. Kelas kapitalis senantiasa melakukan penindasan atas kelas proletar. Oleh karena itu, penindasan itu harus dihilangkan. Hal itu dapat dilakukan hanya dengan melalui suatu revolusi (perubahan). Hal inilah yang merupakan konsep kaum komunis untuk melakukan suatu perubahan terhadap struktur masyarakat secara revolusioner. Menurut komunisme, ideologi hanya diperuntukkan bagi masyarakat secara keseluruhan.
Etika ideologi komunisme adalah mendasarkan suatu kebaikan hanya pada kepentingan demi keuntungan kelas masyarakat secara totalitas (keseluruhan). Atas dasar inilah, komunisme mendasarkan moralnya pada keuntungan kelasnya sehingga segala cara dapat dihalalkan.
Dalam kaitannya dengan negara, pemerintahan negara harus dipegang oleh orang-orang yang meletakkan kepentingan pada kelas proletar. Demikian juga hak asasi dalam negara hanya berpusat pada hak kolektif sehingga hak individual tidak ada. Atas dasar pengertian inilah, sebenarnya komunisme adalah antidemokrasi dan hak asasi manusia.
Jika paham komunisme dihubungkan dengan masalah agama maka menurut komunisme yang dipelopori oleh Karl Marx menyatakan bahwa, manusia merupakan suatu hakikat yang menciptakan dirinya sendiri dengan menghasilkan sarana-sarana kehidupan sehingga sangat menentukan dalam perubahan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan ataupun agama. Dalam pengertian ini, komunisme berpaham ateis (tidak bertuhan) karena manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Agama menurut komunisme adalah realisasi fanatis makhluk manusia. Dengan kata lain, agama adalah kelnhan makhluk tertindas. Oleh karena itu, agama merupakan candu masyarakat menurut komunisme marxis.
Negara yang berpaham komunisme bersifat ateis bahkan bersifat antiteis. melarang dan menekan kehidupan agama. Oleh karena itu, komunisme di Indonesia merupakan bahaya laten yang harus kita waspadai (laten = tersembunyi; terpendam; tidak hilang yang mempunyai potensi untuk muncul kembali).


Baca Juga :

0 Response to "MACAM-MACAM IDEOLOGI DI DUNIA"

Post a Comment